Prolog


PROLOG 

  "From Denpasar to Doha" 03-10-2018 (00:35 WITA)

"Ladies and gentlemen, welcome onboard flight QR-961 with service from Denpasar to Doha. We are currently third in line for take-off and are expected to be in the air in approximately ten minutes time. We ask you to please fasten your seatbelts at this time, and secure all baggage underneath your seat or in the overhead compartments. We also ask that your seats and folding trays are in the upright position for take-off. Please turn off all electronic devices you bring, including mobile phones and laptops. Smoking is prohibited for the duration of the flight on the entire aircraft, including the lavatories. Thank you for choosing The Airlines. Enjoy your flight."

 

Setelah ku nanti-nanti 1 semester lamanya, hari itu pun tiba. Akhirnya pesawat yang aku naiki akan terbang menuju luar batas Indonesia. terbang diantara gelapnya hari menuju pagi. Saat itu yang aku rasakan adalah sebuah ambisi, sesuatu yang berani, namun ada rasa cemas dan rindu. 
" Inilah waktunya, hari ini pasti akan menjadi hari yang akan merubah diriku, pola pikirku. Inilah perjuanganku, apa yang telah aku perjuangkan, inilah waktunya."
Itulah yang selalu ku katakan dalam hati kepada diri sendiri agar aku bisa yakin dan tak ragu atas keinginan yang sudah sejauh ini. Mikir apa ya mbok[1], seorang Septyan Aireza yang notabenenya orang yang biasa-biasa aja, paling tidak  pandai diantara teman-temannya di SMA, yang ndesani[2] kok bisa kuliah di luar negeri dengan jalur beasiswa pula. Apalagi perkataan dan makian itu berasal dari diri sendiri yang menandakan bahwa itu benar adanya. Namun disamping itu aku juga merasakan sesuatu hal yang spesial dari diriku, hal yang juga orang lain katakan serupa, dan itulah yang selalu membangkitkan kepercayaan diriku. Sesuatu hal itu adalah kreativitas dan ambisi. Namun sebenarnya bukan hanya itu yang menjadikan aku mencapai capaian ini. Melainkan kehendakNya atas semua doa-doa yang selalu dipanjatkan. Doa-doa yang setiap hari dan malam dipanjatkan meskipun hal itu belum terwujud atau bahkan tak terwujud. Namun tetap kuyakini bahwa setiap orang punya jalannya sendiri, yakinlah bahwa jalan hambaNya adalah jalan yang ia inginkan dan cita-citakan.

Melalui Laut Natuna saatnya pesawat meninggalkan wilayah Nusantara. Kini aku mulai tenang, sudah tak ada lagi rasa cemas, ragu dan rindu. Ku ambil bantal dan selimut di kantong depan kursi, tak lupa kupakai penutup mata dan akhirnya aku bisa istirahat. Dalam hati ingin rasanya segera melihat lingkungan baru yang belum pernah aku alami sebelumnya, aku harap semua akan baik-baik saja dan perjalanan ini akan lancar. 

Tanpa disadarai, hari itu adalah awal dari petualangan yang akan sangat menguras banyak tenaga, pikiran dan juga emosi.

SELANJUTNYA: Before D-Day(1)
https://aireza-story.blogspot.com/2018/11/before-d-day1.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INSTAGRAM

@septyan_ai